Join VSI yuuukk, Bisnis Murah dan Mudah

Indo Vpay

Selasa, 27 Oktober 2009

RSSSS (rumah sangat sederhana sekali sampai sikil saja susah selonjor)


Gangguan komunikasi dan gangguan menelan pada pasien STROKE

SUMBER :
Ns. Eny Mulatsih,Skep. Petujuk perawatan pasien pasca stroke di rumah, Penerbit FKUI Jakarta 2008, halaman 36-43


ABSTRAK :
GANGGUAN KOMUNIKASI
Bila stroke menyerang otak kiri dan mengenai pusat bicara,kemungkinan pasien akan mengalami gangguan bicara atau afasia.
Secara umum afasia terbagi dalam tiga jenis, yaitu afasia motorik,afasia sensorik,dan afasia global.
Pasien afasia motorik ditandai dengan ketidakmampuan pasien mengungkapkan atau mengekspresikan kata-kata,tetapi pasien memahami apa yang dikatakan orang lain kepadanya.
Sebaliknya, pasien afasia sensorik tidak memahami pembicaraan orang lain tetapi dapat mengeluarkan kata-kata. Akibatnya pasien afasia sensorik terlihat tidak nyambung kalau diajak bicara,oleh karena otak tidak mampu menginterpretasikan pembicaraan orang lain meskipun pendengarannya baik.
Sedangkan bila kerusakan otak luas dan menyerang pusat ekspresi dan pusat pengertian bicara di otak kiri, pasien akan mengalami afasia global.Pasien tidak mampu memahami pembicaraan orang lain,dan tidak mampu mengungkapkan kata-kata.

Hal yang harus dipahami oleh perawat adalah bahwa pasien afasia tetap membutuhkan kesempatan untuk mendengar pembicaraan orang lain secara normal. Bila kita mengabaikan pasien stroke yang mengalami afasia, misalnya mendiamkam atau menganggap seolah-olah pasien tidak memahami pembicaraan kita, maka pasien akan merasa frustasi dan sakit hati.

Pada saat berbicara dengan pasien afasia usahakan agar wajah kita menghadap lurus ke arah pasien.Hal ini akan membantu pasien untuk melihat gerak bibir dan ekspresi wajah kita. Usahakan menggunakan kalimat pendek dan berikan penekanan pada kata yang penting. Jika memungkinkan gunakan ekspresi wajah,gerakan tubuh,dan irama suara sehingga pasien dapat memahami perkataan kita.
Bila pasien tidak memahami perkataan kita usahakan untuk mengucapkan dengan kalimat yang artinya sama.Anjurkan dan berikan kesempatan pasien untuk berkomunikasi secara total, yaitu dengan mempergunakan ekspresi wajah dan gerakan tubuh.Jangan cemas bila pasien memberikan jawaban yang kurang jelas.
Agar memahami pembicaraan pasien,sebaiknya kita mendengarkan secara cermat dan memperhatikan kata-kata kunci , selanjutnya mengira-ngira apa yang ingin pasien sampaikan. Jangan gusar bila tebakan kita salah, minta maaf dan anjurkan pasien untuk mengulang kata-katanya.
Untuk membantu pasien memahami pembicaraan orang lain, usahakan berbicara perlahan,tenang,intonasi suara normal, jangan berteriak. Gunakan bahasa orang dewasa,kalimat pendek dan berikan rangsangan visual jika memungkinkan.
Seringkali pasien afasia motorik merasa frustasi karena tidak mampu mengungkapkan apa yang diinginkannya,sehingga pasien marah atau mengamuk. Salah satu upaya untuk mengatasinya yaitu dengan menggunakan papan komunikasi yang berisi gambar atau simbol aktifitas harian pasien.Yang perlu diingat bahwa papan komunikasi ini bukan digunakan untuk melatih tetapi sebagai media komunikasi untuk mengantisipasi keinginan pasien yang sulit kita mengerti,sehingga pasien tidak frustasi.Untuk mempercepat pemulihan,pasien afasia sebaiknya berlatih dengan terapis wicara secara teratur minimal 2x seminggu.
GANGGUAN MENELAN
Gangguan menelan merupakan salah satu masalah kesehatan akibat serangan stroke.Biasanya pasien menunjukkan gejala tersedak pada saat makan dan minum,keluar nasi dari hidung,tidak mampu mengontrol keluarnya air liur darimulut (mengiler), memerlukan waktu yang lama untuk makan,dan makanan tersisa di mulut setelah makan.
Bila memungkinkan sebaiknya makan dalam posisi duduk ,tetapi bila tak bisa dapat diatur dengan posisi duduk menyandar 60-90 derajat. Ketika pasien menelan,anjurkan pasien untuk menekuk leher dan kepala agar mempermudah menutupnya jalan nafas ketika menelan.Pada saat menelan anjurkan pasien memutar kepala/menengok ke sisi yang lemah. Pergunakan sendok kecil dan tempatkan makanan pada sisi yang sehat.Pastikan makan telah tertelan semua sebelum memberikan suapan berikutnya.Pertahankan pasien tetap duduk tegak setengah jam setelah makan.Pastikan mulut pasien telah kosong,tak ada sisa makanan yang belum tertelan setelah makan selesai.Bersihkan gigi dan mulut pasien setelah makan.
Makanan yang diberkan bertahap, dimulai dengan makanan yang konsistensinya semi padat atau lunak,selanjutnya bertahap sampai ke bentuk cair.Hindari penggunaan gelas dan sedotan pada awal latihan minum karena dapat menyebabkan pasien tersedak.Gejal tersedak ini disebabkan karena koordinasi otot lidah dan mulut belum baik, atau karena adanya gangguan fungsi pusat menelan di otak.Jadi sebaiknya gunakan sendok kecil dan tempatkan makanan pada sisi yang sehat.

KESIMPULAN :
Pasien afasia mudah frustasi karena tak mampu mengungkapkan keinginannya kepada orang lain, diperlukan dukungan orang disekitarnya untuk melatih komunikasi.
Kesulitan menelan pada pasien stroke dapat dilatih dengan pemberian makanan bertahap dari semisolid sampai cair dan dengan cara makan yang benar untuk menghindari aspirasi makanan ke jalan nafas.



SARAN :
Perawat dan keluarga saling bersinergi untuk memberikan dukungan latihan pada pasien afasia dan gangguan menelan pada pasien stroke, agar komunikasi berjalan lancar dan nutrisi terpenuhi .

Stadium Luka

SUMBER :

Widasari Sri Gitarja,Skp.ETN ; Perawatan Luka Diabetes,seri perawatan luka terpadu,WOCARE publishing,Juli 2008.


ABSTRAK :

Stadium luka dapat dibedakan berdasarkan atas :
A. Anatomi kulit (Presure ulcers panel, 2007)
Partial thickness : hilangnya lapisanepidermis hingga lapisan
dermispaling atas.
Stadium I : Kulit berwarna merah,belum tampak adanya lapisan
epidermis yang hilang
Stadium II : hilangnya lapisan epidermis/lecet sampai batas dermis
paling atas.
Full thickness : hilangnya lapisan dermis hingga lapisan subkutan
Stadium III : Rusaknya lapisan dermisbagian bawah hingga lapisan
subkutan.
Stadium IV : Rusaknya lapisan subkutanhingga otot dan tulang.
B. Stadium Wagner luka kaki diabetik
Superficial ulcer
Stadium 0 : tidak terdapat lesi.Kulit dalamkeadaan baik,tapi dengan
bentuk tulang kaki yang menonjol/charcot arthropathies.
Stadium1 : Hilangnya lapisan kulithingga dermis dan kadang-kadang
tampak tulang menonjol.
Deep ulcers
Stadium 2 : lesi terbuka dengan penetrasi ke tulang atau tendon
(dengan goa)
Stadium 3 : Penetrasi hingga dalam.osteomyelitis,pyarhrosis,plantar
abses atau infeksi hingga tendon.
Gangrene
Stadium 4 : gangren sebagian,menyebar hingga sebagian dari jari kaki
,kulit sekitarnya selulitis,gangrene lembab/kering.
Stadium 5 : Seluruh kaki dalam kondisi nekrotik dan gangrene.

C. Warna dasar luka (Netherland Woundcare Consultant society,1984)

Selama ini kita mengenal banyak sekali metode yang dipakai di klinik untuk menentukan tingkatan atau stadium dan klasifikasi dari derajat keseriusan suatu luka. Kemudahan yang ingin diperkenalkan untuk menilai derajat keseriusan luka adalah menilai warna dasar luka.
Sistim ini bersifat konsisten, mudah dimengerti dengan bahasa sederhana dan sangat tepat guna dalam membantu memilih tindakan dan terapi perawatan luka serta mengevaluasi kondisi luka. Sistim ini dikenal dengan sebutan RYB/Red yellow Black.(merah-kuning-hitam).

RED/MERAH
Luka dengan warna dasar merah tua atau terang dan selalu tampak lembab,nerupakan luka bersih,dengan banyak vaskularisasi,karenanya mudah berdarah.
Tujuan perawatan luka dangan warna dasar merah ini adalah mempertahankan lingkunagan luka dalamkeadaan lembab dan mencegah terjadinya trauma dan perdarahan.

YELLOW/KUNING
Luka dengan warna dasar luka kuning kecoklatan atau kuning kehijauan atau kuning pucat adalah jaringan nekrosis.Merupakan kondidsi luka yang terkontaminasi atau terinfeksi dan avascularisasi.
Hal yang perlu dicermati bahwa semua luka kronis merupakan luka yang terkontaminasi, namun belum tentu terinfeksi.
Terinfeksi tidaknya suatu luka dapat dinilai dengan adanya peningkatan jumlah leukosit darah dalam tubuh, peningkatan suhu tubuh.
Tujuan perawatannya adalah dengan meningkatkan sistim autolisis debridement agar luka berwarna merah,absorb eksudate,menghilangkan bau tidak sedap dan mengurangi ataumenghindari kejadian infeksi.

BLACK/HITAM
Luka dengan warna dasar hitam adalah jaringan nekrosis,merupakan jaringan avaskularisasi.Tujuan perawatannya sama dengan warna dasar luka kuning.



KESIMPULAN :
Untuk mengetahui derajat keseriusan luka dapat dinilai dengan cara melihat kerusakan anatomi,warna dasar luka dan khusus untuk luka diabetik dapat dinilai dengan stadium wagner


SARAN :
Sebelum melakukan perawatan luka, sebaiknya nilai dulu derajat luka tersebut, tentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan kondisi luka dan evaluasi kembali dengan skala stadium luka, adakah perbaikan atau perburukan.

Jakarta,28 Februari 2009

Di kala ku seorang diri

Bisu…
Aku bagai bisu.
Tiada kata-kata,
Tiada jua ucap rasa.

Diam…dan, sunyi…
Keheninganpun merasuk jiwa…
Adakah damai di sana???

Ooooh! Desah nafasku tak bias berdusta.
Dan detak nadikupun berucap,
Kini sukmaku terlipur….
Tuk menerawang asa dan cita,
Tuk menata ruang waktu yang tersisa,
Dan jua, kebeningan jiwa nan lelah…

Oh Tuhanku ya Robby…
Kupohonkan [padaMu…
Setetes embun kasih,
Tuk sejukkan jiwaku nan gersang.

Senin, 26 Oktober 2009

ASA

Malam bolehlah gelap,
Bintang di langitpun boleh tak berkedip.
Namun lentera hatiku, Bersinarlah terang!!!
Dan tak kan pernah padam..
Agar aku dapat menapak lorong waktu yang kian menjauh tak bertepi,
Hingga ajalku menjelang.

PASRAH

Ada gundah mengelana dalam jiwaku
Kegelisahan yang kian merasuk,
Mencari asa yang mengambang
Tersenyum, Getir…
Menangispun tiada air mata lagi.

Dalam kesunyian jiwa ini..
Kurela kau bayangi mimpiku,
Agar kau tahu,
Betapa ku tak ingin menyakitimu.

Bimbang

Kerinduanku tiada pernah berakhir.
Walau hujan badai menerpa anganku …
Namun keteguhan hatiku tak tergoyahkan,
Hingga tak tersadar bulan kian berlalu..
Tahun pun berganti terlewati sudah.
Tanpa kutahu kapan batas pencarianku.
Dalam penantian tak berujung,
Bahkan tak kenal apa yang dinanti.

Kadang kucoba meluruskan langkah,
Dan kutatap asa nan melambai di sana..
Namun mataku terasa berat,
Penglihatanku kabur…
Hingga keyakinanku goyah.
Mungkinkah tangan ini sanggup,
Tuk menggapai bintang di langit biru itu?

Ada jalan yang berkelok,
Bila kutelusuri…akankah kudapat citaku?
Aku takut ini hanyalah indahnya fatamorgana…
Karna itu,
Aku tak kan pernah berpaling…
Karna kutakut azab Mu ya Allah !!!